Home Uncategorized Pemanfaatan lnformasi Geospasial dalam Mitigasi Bencana

Pemanfaatan lnformasi Geospasial dalam Mitigasi Bencana

20
0
SHARE

Jakarta, Info Berita Satu -Indonesia secara geografis terIetak di antara dua samudera, yaitu Samudera Hindia dan Pasifik. Indonesia juga diapit dua benua, yaitu Benua Asia dan Australia.

Sedangkan, secara geologis, Indonesia dilalui dua rangkaian pegunungan besar di dunia, yaitu Sirkum Pasifik dan Mediterania. Sirkum Pasifik dimulai dari pegunungan Los Andes di Amerika SeIatan, pegunungan di Amerika Tengah, Rocky Mountain di Amerika Utara, Kepulauan AIeuten, Jepang, Filipina dan masuk ke Indonesia melalui tiga jaIur, yaitu Kalimantan, Sulawesi, dan Halmahera berlanjut ke kepala burung Papua dan membentuk tulang punggung pegunungan di Papua, Australia, dan berakhir di Selandia Baru. Sementara, Sirkum Mediterania sambungan dari jalur pegunungan di sekitar Laut Tengah, yaitu Afrika Utara, Spanyol, Alpen, Alpenina, Semenanjung Balkan, membujur ke pegunungan Himalaya, Myanmar, Malaysia, kemudian menyebrang ke Indonesia disampaikan Deputi Bidang lnformasi Geospasia Ir. Mohamad Arief Syafi’i, M.Eng Sc yang biasa disapa Arief dalam acara media gathring pemanfaatan informasi Geopasial dalam mitigasi bencana di Jakarta, Kamis (11/10/18).

Arief menambahkan Indonesia juga juga berada di pertemuan lempeng litosfer, yaitu Indo-Australia, Eurasia, dan Pasiflk. Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di Iepas pantai Sumatra, Iawa dan Nusatenggara. Sedangkan Lempeng Indo-Australia bertubrukan dengan Pasific di utara Irian dan Maluku utara.

Posisi Indonesia tersebut membuatnya menjadi rawan bencana alam, mulai dari kekeringan, banjir, gempa, erupsi gunung berapi, hingga tsunami. Bahkan, bisa dibilang hampir seluruh wilayah di Indonesia tidak ada yang bebas bencana. Tidak heran, jika ada yang menyebut Indonesia adalahsupermarket bencana.

Sesuatu disebut dengan bencana jika berdampak Iangsung pada manusia. Jika tidak berdampak langsung pada manusia, maka hal tersebut merupakan siklus alam. Banyak yang beIum menyadari, 70 persen bencana di Indonesia disebabkan karena keberadaan maupun ketidakberadaan air.

Bencana yang sebagian besar tidak bisa diprediksi tak dapat ditolak. Mau tidak mau, masyarakat Indonesia harus berdamai dengan bencana. Satu-satunya cara meminimalisir dampak bencana adalah dengan mengedukasi masyarakat.

Edukasi yang harusnya didapat masyarakat meliputi disaster life management cycle atau siklus anajemen penanggulangan bencana. Siklus ini pada dasarnya berupaya menghindarkan masyarakat dari bencana, baik dengan mengurangi kemungkinan munculnya hazard maupun mengatasi kerentanan.

Siklus manajemen penanggulangan bencana meliputi disaster preparedness (kesiapsiagaan menghadapi bencana), disaster mitigation (mengurangi dampak bencana), disaster response ,(tanggap bencana), serta disaster recovery (pemulihan pascabencana).

Diperlukan lnformasi Geospasial (IG) pada seluruh rangkaian siklus manajemen penanggulangan bencana. IG dapat dimanfaatkan pada tahap pra, saat terjadi, maupun pascabencana.

Badan lnformasi Geospasial (BIG) merupakan Iembaga pemerintah yang memegang kendali atas IG di Indonesia. Bagi yang awam, lG adalah segala informasi yang ada di bawah serta di atas permukaan bumi dan dinyatakan dalam bentuk titik koordinat.

Kebutuhan akan IG ini semakin dirasakan setelah tsunami dan Iikuifaksi yang menerjang Sulawesi Tengah (Sulteng). Banyak pihak memanfaatkan IG untuk penanganan pascabencana yang areanya begitu iuas dan tersebar. Masyarakat juga mulai sadar, perlu adanya peta rawan bencana yang berisi segala informasi terkait bencana, dari mulai gunung api hingga Iempeng bumi yang rawan bergeser. Peta bencana ini nantinya dapat digunakan untuk banyak hal, termasuk menentukan Iokasi pembangunan.

Saat ini, seluruh mata dan dukungan sedang tertuju pada Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulteng. Namun, ada yang harus diwaspadai karena bencana lain sudah meng’mtai. Puncak musim hujan yang diprediksi terjadi pada Januari-Februari 2019 memungkinkan terjadinya banjir. Hal ini harus diwaspadai dari awal agar duka tak terus merundung negeri ini. (rs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here